Jumat, 20 Desember 2013

Kue untuk Ainun



18 Desember 2013, penelitianku memasuki minggu ketiga. Dua hari yang lalu aku mencoba untuk menelepon contact person sebuah toko elektronik yang sudah berkali-kali dicari alamatnya tapi tak kunjung ketemu jua. Toko itu juga salah satu tempat yang akan menjadi objek penelitianku.
Nada tut hanya berbunyi dua kali disusul kata “Halo” oleh suara di seberang sana. Mulailah aku memperkenalkan diri, namun keributan dari seberang sana lebih mendominasi sehingga suaraku lenyap olehnya. Aku diam, menunggu si pemilik suara mematikan teleponnya. Terasa tidak sopan jika aku mematikan teleponnya lebih dulu, meskipun aku yang melakukan panggilan tersebut. Masih jelas terdengar kata ‘Apa? Aku tidak bisa mendengarkan suara Anda dengan baik? Siapa di sana?’ sebelum teleponnya benar-benar dimatikan.
Aku mencoba mengirimkan pesan singkat, hanya menyebutkan nama, asal, juga tujuan. Tak berapa lama balasannya datang, lengkap dengan alamat kantornya. Aku membalasnya kemudian dengan ucapan terima kasih.
Beberapa jam kemudian ia menelepon. Panggilan pertama tidak kuterima, telat kulihat. Aku juga tak menelepon balik. Menurutku aku tak memberikan pertanyaan apa pun, kupikir ia hanya salah tekan tombol saja. Selang beberapa menit, panggilan kedua datang. Tanpa pikir panjang, teleponnya kuangkat. Datang ke rumah sebelum jam 3. Itu pesannya. Tak lupa diberikannya sebuah alamat rumah. Warnet Ainun, katanya.
Adzan baru saja dikumandangkan ketika aku tiba dirumahnya. Sebuah rumah panggung kecil, satu hal yang membuatku cukup ragu untuk mengetuk pintu rumahnya. Benarkah ini alamat yang diberikan tadi??? Hanya beberapa jenak setelah pintu diketuk seorang pria membuka pintu. Pasti ini orangnya, pikirku.
“Saya orang yang tadi nelpon, Pak!”
“Oh, mari silakan masuk!”, ia tersenyum ramah.
Hanya ada beberapa kursi di sana. Aku tak yakin jika penghasilannya tak cukup untuk memiliki rumah yang jauh lebih bagus dibanding apa yang dia miliki sekarang. Aku menyerahkan kuesioner beserta surat pengantar. Ia membacanya sebentar, kemudian mengisi kuesioner tersebut. Sembari mengisi lembaran itu, ia bercerita banyak. Bukan hanya tentang sistem yang menjadi titik fokus penelitian, tetapi juga tentang rendahnya kualitas pendidikan. Ia peduli tentang kemampuan para sarjana yang hanya terbatas pada teori saja (bahkan ada pula yang hanya bermodalkan ijazah, buta akan teori). Aku melihat biodata yang diisinya. SMA??? Aku kaget bukan main. Lulusan SMA bisa jauh lebih baik dibanding seorang sarjana.
Esoknya aku ke sana lagi untuk mengambil surat penelitian yang telah dicap atas nama kantornya. Lima belas menit aku berdiri di depan pintu hingga seorang ibu-ibu paruh baya membukanya. “Masuk nak!”, ucapnya sembari memanggil seseorang.
Seorang wanita keluar lagi. Istrinya mungkin, dugaku. Benar saja. Tapi ternyata surat yang dijanjikan lupa dititip. Katanya lagi ‘kalau mau tunggu boleh, tapi sekitar sejam lagi Bapak pulang’. Waktu yang cukup lama. Gerimis mulai membasahi bumi. Terlambat sepersekian detik saja, hujan bisa membuat kuyup. Dan bukan kondisi yang tepat karena aku sedang membawa beberapa map kertas tanpa bungkusan. Alhasil, kuputuskan untuk pulang dan kembali esok hari.
“Gak papa kan kalo besok saya ke sini lagi?”, tanyaku setengah tak enak hati padanya.
Si ibu malah tersenyum, “Datang tiap hari juga gak papa”.
Aku akhirnya pamitan. Saat di angkutan umum, teleponku bergetar. Panggilan dari nomor tidak dikenal. Aku paling ogah sama nomor baru, jadi telepon tersebut kudiamkan saja. Lama aku baru tersadar, takutnya yang menelepon adalah Bapak yang kemarin. Dan benar saja, ketika panggilan kedua kuterima Bapak tersebut menawarkan untuk menitipkan surat pada karyawan kantor yang katanya tinggal di sekitar rumah. Aku menolak, sungguh akan lebih merepotkan lagi jika surat itu kutitip. Belum tentu juga karyawan yang dimaksud akan ikhlas menolong.
Sampai di rumah, aku termenung. Haru meliputi jiwaku. Orang-orang baik seperti mereka sungguh sudah jadi barang langka di dunia ini. Tak akan ada yang benar-benar tulus memberikan bantuan. Oleh karena itu, aku berniat untuk memberikan kue untuk Ainun sebagai ucapan terima kasih.
Pagi ini aku sudah siap berangkat. Rencana sudah terpikir matang, beli kue lalu ke rumah Ainun, juga kegiatan lain. Pukul 10 pagi aku sudah diambang pintu, namun gerimis turun. Membuat langkahku harus mundur.
Hujan berlangsung hingga sejam kemudian. Aku buru-buru berangkat. Langit masih mendung sehingga gas terus tertancap. Sampai di sana aku baru ingat sesuatu, Kue untuk Ainun. Aku telah mengetuk pintu, tidak mungkin aku pergi begitu saja. Apalagi pintu rumah terbuka lebar. Akan menimbulkan kecurigaan jika aku pergi begitu saja. Bapak tersebut muncul dengan surat di tangan. Aku meraihnya dan berucap terima kasih sekali lagi lalu pamit.
Penyesalan menyelimuti, niat untuk memberikan kue untuk Ainun akhirnya tidak dilakukan. Tapi kuenya akan kuganti dengan doa, semoga Ainun dan keluarga diberikan yang terbaik olehNya. Aamiin.

Kekuatan “SEMANGAT”



Raga akan kuat jika masih ada semangat dari jiwa”.

Benarkah??? Sebagian orang mungkin akan mengiyakan. Semangat yang tumbuh dari dasar jiwa tentu akan mempengaruhi seberapa besar usaha seseorang dalam melakukan sesuatu. Tanpa adanya semangat, usaha tidak akan tercipta. Atau mungkin saja tercipta, namun tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Di sinilah pentingnya semangat, bisa mendorong seseorang untuk melakukan usaha secara maksimal.
Seseorang bisa saja merasa yakin bisa mencapai suatu target tertentu. Namun, keyakinan itu hanya akan menjadi sebatas impian jika seseorang tersebut tidak memiliki semangat. Misalnya, seorang mahasiswa yang memiliki keyakinan akan lulus setelah kuliah empat tahun. Jika ia memiliki semangat, tentu ia akan bersungguh-sungguh dalam menjalankan aktivitas kuliah. Sebaliknya, jika semangatnya tidak ada, kecil kemungkinan target itu akan tercapai.
Semangat mempengaruhi tingkat keberhasilan seseorang. Hal itu ada benarnya juga. Lihatlah seorang sales alat kecantikan, peralatan dapur, alat tulis, dan lain-lain yang berkunjung dari rumah ke rumah demi mencapai sebuah target penjualan. Pernahkah mereka mengeluh teriknya matahari saat mereka berjalan? Atau mengutuk hujan yang seringkali membuat mereka kuyup? Tentu saja pernah. Tapi keluhan itu hanya sebagian kecil dari perjuangan mereka. Semangat membuat mereka utuh, kuat berjalan.
Semangat itu penting bagi hidup. Mereka yang tak memiliki semangat tak akan merasa benar-benar hidup. Oleh karena itu, senantiasa tumbuhkanlah semangat dalam diri kita. Berikan sugesti, karena hanya kitalah yang dapat menciptakan semangat bagi diri kita sendiri.

Cara Sikapi Kegagalan



Kegagalan akan menjauhkan kita dari kata BAHAGIA. Tak ada yang mampu tersenyum ketika mengalami kegagalan (Ada sih, tapi hanya sebagian kecil saja). Orang-orang yang gagal akan merasa dunia mereka semakin sempit hingga sesak mengungkung mereka. Bukan hanya itu, kegagalan juga akan memaksa mereka menggunakan kacamata kuda, seolah hanya ada satu hal di depan mata – hal yang tak mungkin bisa diraih.
Mereka yang memiliki jiwa positif tak akan menyerah begitu saja saat menemui kegagalan. Hidup tak hanya punya satu sisi. Selalu ada sisi lain yang hanya memiliki kemungkinan kecil untuk dilirik ketika kegagalan datang. Berikut yang seharusnya dilakukan saat mengalami kegagalan.
Lihatlah ke belakang dan bersyukurlah!!!
Lihat ke belakang!!! Bukan menoleh ke belakang. Begitu banyak orang yang berjalan pada lintasan yang sama. Ibarat sedang menempuh sebuah perjalanan, tentu kita tak akan sendiri di jalanan. Selalu ada seseorang di belakang kita. Hal ini patut kita syukuri karena setidaknya kita beberapa langkah lebih maju dibanding mereka. Sama halnya dengan harta yang kita miliki. Jika ada hanya beberapa helai puluhan ribu di kantong, maka bersyukurlah!!! Karena di luar sana banyak yang tidak punya sepeser pun dan harus berutang sana-sini demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
Lihatlah ke depan dan berjuanglah!!!
Tak jauh beda dengan perumpamaan sebelumnya, jika ada barisan belakang tentu ada pula barisan depan. Kebanyakan orang akan merasa iri pada orang lain yang setingkat lebih maju. Umumnya, mereka akan melakukan upaya untuk membuat orang tersebut mundur. Jika itu yang kalian lakukan, maka kalian termasuk orang-orang yang terkena penyakit hati. Seorang yang memiliki jiwa positif tidak akan berpikir untuk mengalahkan orang lain yang berada setingkat lebih maju. Upaya yang akan dilakukannya lebih kepada bagaimana agar ia juga dapat mengukir prestasi seperti orang lain. Sama halnya dengan seorang pengusaha yang berupaya untuk memajukan usahanya tanpa merugikan usaha orang lain.
Percaya!!!
Satu yang selalu terlewatkan adalah kepercayaan. Percaya pada diri sendiri, juga TUHAN. Kegagalan seringkali membuat kepercayaan hilang. Menguap entah kemana. Merenung berhari-hari memikirkan penyebab kegagalan. Pun seseorang akan lupa pada Tuhannya. Dunianya seolah gelap, pekat, dan penuh sekat. Mereka yang berjiwa positif mungkin juga akan meluapkan emosinya saat kegagalan melanda, itu hal yang manusiawi. Namun, mereka tak akan berlarut-larut untuk merenung dan meratapi kegagalan. Dengan segera, kepercayaan dalam diri muncul. Percaya bahwa kita dapat menyelesaikan masalah, juga percaya bahwa Tuhan akan selalu menuntun kita.

Kisah Badut Bernama Pagliacci



Seorang dokter memeriksa seorang pasien,
Dokter         :   Apa keluhanmu?
Pasien          :   Saya sedang bersedih, Dok! Terlalu banyak masalah dan saya merasa tidak sanggup untuk melewatinya. 
Dokter         :   Datanglah ke pusat kota malam ini. Di sana akan ada seorang Badut bernama Pagliacci. Dia akan membuatmu tersenyum.
Pasien          :   Tidak mungkin, Dok!
Dokter         :   Percayalah!!! Semua orang akan merasa terhibur jika melihatnya.
Pasien          :   Itu tidak mungkin.
Dokter         :   Kenapa?
Pasien          :   Karena saya adalah Pagliacci.

Ceker



Jam kuliah gak selalu nyenengin buat mahasiswa. Apalagi kalo dosennya hobi kasi penjelasan panjang lebar, yang ujung-ujungnya malah bikin ngantuk. Nah, untuk mengatasi rasa kantuk, banyak dari mereka yang “ceker” alias chatting pake kertas. Selain gak bakalan ngusik konsentrasi dosen di depan kelas, dijamin gak bikin ngantuk.
Salah satu caranya, kita bisa buat kayak di FB, seperti yang satu ini nih..

Emmy blues charity’s mind :
Bosen, ngantuk, de el el.. enaknya ngapain ya???

Comment:
Febi  : Ngegosip..siiipp..siiiipppp….
EBC   : Topik yang bagus apa? Gak usah ngomongin pasangan sensasional yah, udah basi..
Febi  : gosipin ibu presiden sama ibu wakil presiden aja deh…
EBC   : Haaa?? Siapa??? (Jangan sebut inisial ya, nama lengkapnya aja..!!)
Febi  : Hahaha.. Gosip CCTV aja deh.. lebih hot..
EBC   : Yaaa, belon juga selese satu topic, udah pindah lagi.. ekh, udah liat Rusa belum??
Febi  : Hahaha.. belon.. ntar malam aja, sekalian mau malam jumatan ma satpam
EBC   : Wkwkwk.. satpam gak jaga kalo malam jumat, ada baju putih yang gantiin. Ekh, masuk dunia khayal yuk!! Kalo ibu (dosen) mau bikin mobil terbang, kamu mau bikin apa?
Febi  : Aku mau buat rumah di atas mobilnya, kamu?
EBC   : Aku mau bikin jalan tol, biar bisa dapat hasil pajak
Febi  : jadi nanti aku gak pake jalan tol kamu donk.. aku kan butuhnya bandara..
EBC   : Yaaa, emang gak bisa.. Jalan tol ku kan di bawah laut, kalo darat dan udara kan udah padat, jadi nyiapin jalur alternatif aja, sekalian cuci mata kalo ketemu putrid duyung. Hahaha…
Febi  : ekh, rumahku nanti kayak robot. Bisa vertical, juga horizontal. Besar kecilnya ruangan bisa diatur.
EBC   : kalo aku, rumahku bentuk bola. Jadi posisi kamar sama ruangan lain berubah sesuai iklim. Wkwkwk… ntar datang ya! Tapi kalo aku kasih teh, kudu diabisin cepet-cepet sebelum angin berhembus, ntar keburu tumpah lagi…
Febi  : kalo aku sih, semua bentuk bisa. Sesuai selera. Jadi kalo kamu dateng pas aku lagi gak mood, kamu bisa muter jungkir balik.. bisa-bisa banyak bintang-bintang di kepalamu.. (mirip Tom yang abis kejedot pintu) hahahaha…
EBC   : Abad ke berapa itu? Aku mau buat rumah di atas awan deh. Kalo nanti gak ada kapas, bisa ngambil awannya. Itung-itung ngirit… hehehe…

Itu dia ceker alias chatting kertas. Iseng sih.. tapi daripada ngantuk di kelas. Gak dianjurin loh ya! Tar malah keseringan kayak gini..